"TIDAK ADA MAKSUD APA-APA" cuma ingin mengimplementasikan gagasan dalam bentuk tulisan
Jumat, 26 November 2010
Kamis, 11 November 2010
Teaah tentang marjinalisasi perempuan
Syara' pun Memberi Keringanan
Selama ini masih ada anggapan bahwa perempuan itu tidak setara dengan laki-laki. Hal ini disebabkan oleh adanya asumsi-asumsi teologis sebagai berikut : pertama; ciptaan tuhan yang pertama adalah laki-laki. Kedua; perempuan digambarkan sebagai penyebab utama dari apa yang biasanya dilukiskan sebagai kejatuhan atau pengusiran manusia dari surga. Oleh karena itu, semua anak perempuan harus dipandang dengan rasa benci, curiga dan jijik. Ketiga; perempuan diciptakan tidak saja dari laki-laki, tapi juga untuk laki-laki, yang membuat eksistensinya semata-mata bersifat instrumental dan tidak memiliki makna yang mendasar, Fatimah Mernisi dan Riffat Hasan.
Itulah salah satu dari premis-premis tokoh feminis pakistan, Riffat Hasan. Dia menginginkan konstruksi terhadap interpretasi al-quran yang syarat dengan bias patriarkhi, penyelewengan tersebut sangat menyudutkan ruang gerak perempuan untuk melakukan aktifitas sekehendak hati (menjadi pemimpin, bekerja;baca). Layaknya drama sinetron, perempuan diibaratkan sebagai pembantu yang siap meluangkan waktunya untuk majikannya atau pengemis yang setiap harinya rela mengiba kepada orang lain demi sesuap nasi. Banyak sekali ayat alquran yang seolah-olah menyudutkan hak perempuan, di antaranya adalah ayat tentang warisan, poligami, kedudukan dan lain-lain. Hal ini sungguh ironis sekali, mengingat sebuah kitab, yang menjadi pegangan hidup orang islam tidak menghargai hak-hak wanita yang mempunyai peranan penting dalam mengarungi kehidupan di dunia khususnya Indonesia. Apakah memang demikian?
Kalau kita telusuri lebih dalam, dalam konteks negara kita kemakmuran keluarga, lembaga, bahkan negara tidak bisa dilepaskan dengan peranan signifikan perempuan, dia menjadi kartu as dalam mengembangkan dan memajukan peradapan nusantara. Tak bisa dipungkiri, perempuanlah yang sanggup merawat dan memperjuangkan anaknya mulai dari kecil hingga tumbuh dewasa yang kemudian menjadi tokoh negara, tokoh masyarakat, pemuka agama, dst. Kaum hawa selalu menjadi sandaran bagi laki-laki ketika terdapat suatu permasalahan, dengan watak manusiawinya perempuan bisa menghidupkan semangat kaum adam ketika sedang dilanda keterpurukan, membawa nuansa baru dalam dunia perpolitikan sehingga menjadi publik figur atau motifasi bagi pemudi-pemudi bangsa di tengah himpitan kaum adam.
Sudah sepantasnya penghargaan yang setinggi-tingginya diberikan kepada wanita mengingat peran mereka dalam merubah sistem kehidupan menjadi lebih baik sangatlah besar. Hal ini berbalik Jika kita mengekor asumsi Riffat Hasan yang merekonstruksi interpretasi mufassir khususnya tentang perempuan (dengan menggunakan pendekatan historis, kritis, kontekstualis;baca), justru peran wanita yang begitu mulia tidak mendapat respon dari syara’, malahan ruang gerak mereka terkesan dibatasi. Melihat fenomena di atas tidaklah aneh jika timbul sebuah pertanyaan yang cukup mendasar, yakni kalau memang agama terkesan hanya untuk laki-laki, dimana produk maqashidus syari’ah yang menjadi slogan fundamental dalam menata kehidupan ummat?
Pandangan penulis, terlalu arogan jika langsung menjustifikasi alquran sebagai kitab yang memihak kaum adam tanpa adanya interpretasi lebih dalam, karena selain sebagai bentuk metaforis kalam ilahi yang tidak diragukan lagi kebenarannya, alquran juga dianggap responsif terhadap perkembangan zaman sehingga tidak menutup kemungkinan timbul penafsiran-penafsiran baru sesuai dengan konteks yang berlaku pada zaman sekarang. kalau berfikir cerdas, sebenarnya alquran menjunjung tinggi, dan melindungi hak perempuan, contoh saja potongan ayat “arrijalu qawwamuna ‘alannisa’”, tidak ada indikasi yang menyebutkan bahwa ayat itu bertujuan membedakan manusia dari segi jati diri (biologis;baca) walaupun arti haqiqi “rijal” adalah laki-laki. Artinya ada kasamarataan antara hak laki-laki dan perempuan, hal ini didukung dengan ayat yang berartikan “semua makhluq di sisi Allah itu sama hanya saja yang membedakan adalah tingkat ketakwaan”. Nah inilah poin penting yang dimaksudkan alquran, yakni meringankan beban kaum hawa dengan membebankan kaum adam untuk menghidupi keluarga.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)