Kamis, 25 Maret 2010

Nikah sirri yes Tindak pidana no

        fenomena nikah sirri sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Berbagai daerah misalnya, baik kalangan menengah maupun ke atas sering melakukan praktik tersebut. Kabar terakhir sebagaimana informasi dari media elektronik menyebutkan bahwa di daerah Cirebon pada tanggal 18 februari 2010 terdapat muda- mudi nikah sirri, akan tetapi fenomena tersebut mencuat bak artis kondang  pergi ke Negara lain ketika menteri agama akan membuat rancangan undang-undang tindak pidana bagi pelakunya.
         Nikah sirri merupakan tindakan suci yang bertujuan menghalalkan hubungan seks, hanya saja belum mendapat legalitas dari Negara. Perspektif syariat’ jika terjadi akad nikah yang sesuai dengan rukun dan syarat-syaratnya maka nikah tersebut dianggap sah, hal ini berlaku bagi nikah sirri. Sudut pandang negara sebagaimana perumusan dalam undang-undang perkawinan bahwa orang yang berkeinginan menikah maka harus melunasi administrasi terlebih dahulu, konkritnya mendapat pengakuan dari Negara. Sebenarnya, bila ditelaah lebih dalam perbuatan tersebut bisa di kategori kan sebagai perbuatan tercela karena menyalahi aturan Negara, hal ini diperkuat dengan tendensi potongan ayat alquran “taat lah kepada Allah, nabi dan pemimpin, dalam konteks ini adalah KUA”. Sisi positif nikah sirri sangatlah banyak di antaranya: praktis, meminimalisir hubungan sek, tidak susah payah mengurus administrasi, tidak mengeluarkan sepeser uang, dll. Sisi negatifnya tidak kalah berbahaya, di antaranya: anak tidak akan mendapat akta kelahiran, anak terancam tidak memiliki hak waris jika di tinggal meninggal oleh orang tuanya, anak tidak bisa sekolah karena terbentur dengan persyaratan, dll. Nah, melihat persentase dari keduanya seharusnya sisi negatif lah yang harus dijaga dengan menafikan sisi manfaat. Artinya alangkah baiknya nikah sirri tidak dilakukan karena berimbas pada anak yang dilahirkan, hal ini didukung dengan kaedah fiqih yang berupa “mendahulukan bahaya lebih di dahulukan daripada mengambil manfaat”. Permasalahannya sekarang jika sudah mengetahui sisi negatif dan positifnya akankah kalangan masyarakat masih berkehendak untuk kawin sirri?.
***
        Akhir-akhir ini, berembus kencang isu yang merebak bahwa menteri agama akan membuat rancangan undang-undang tindak pidana bagi pelaku nikah sirri. Hal ini sebagai langkah antisipatif pemerintah terhadap semakin banyaknya kalangan masyarakat yang melakukan perbuatan tersebut, artinya jika ada orang yang masih melakukannya akan dikenai hukuman. Jika melihat fakta perekonomian rakyat, jelas undang-undang tersebut sangatlah memberatkan karena biaya perkawinan selain mahar (biaya administrasi) relatif mahal. Bagaimana dengan orang yang penghasilannya menengah ke bawah? bagaimana bila seseorang yang sudah berkeinginan menikah  tidak mempunyai biaya untuk administrasi? hal seperti inilah juga harus menjadi acuan sebelum menetapkan tersebut, sebab dampak yang terjadi akan lebih berbahaya. Hemat penulis, menteri agama tidak usah membuat rancangan tersebut akan tetapi tetap berpegang pada undang-undang yang berisi bahwa legalitas dari Negara tentang perkawinan tetap diprioritaskan.

Senin, 15 Maret 2010

Termakan Ambisi

       Bingung dengan ketidak jelasan, hati kecilku meronta-ronta, denyut jantungku bergemuruh, ambisi untuk berkarya lewat tulisan membuatku terpana dengan konsep yang ada di benak pikiran, kontemplasiku melayang kemana-mana. Laksana percikan air yang berjatuhan tidak tentu arah, laksana pengembara sedang mencari hakekat kehidupan, laksana taburan bunga membumbung tinggi terbawa tiupan angin, laksana cabang bayi kehilangan induknya. Rencana untuk mengukir hal-hal yang aku alami hancur berantakan akibat kecerobohanku, keteledoranku, keegoisanku. Rasa keinginan yang kuat membuatku terus berfikir bagaimana supaya bisa menjadi penulis handal, tanpa memikrkan teknis, tanpa pertimbangan terlebih dahulu, tanpa mengukur kadar kelemahanku. Kesabaran, keuletan, membiasakan, aku tinggal kan begitu saja, apalagi membaca. Inilah yang membuat waktuku terbuang sia-sia, selain itu sulit rasanya meluangkan sejenak waktu untuk menggoreskan tinta emas di secarik kertas, padahal waktu luang sangatlah banyak, kenapa membiasakan hal tersebut amat susah sekali? Aku malu dengan diriku sendiri, sedih rasanya melihat kenyataan yang menyakitkan seperti yang sedang aku alami ini. Kenapa proses menjadi lebih baik penuh dengan retorika?
       Kesempatan untuk mengekspresikan karya tulisan sebenarnya terbuka lebar melalui himabu dan kelas, teman-teman kelas sangat responsif ketika aku mintai pendapat tentang pembuatan buletin kelas. Arahan-arahan, solusi-solusi untuk mensiasati jika terjadi kemacetan tidak lepas dari bentuk apresiasi mereka, akan tetapi ada satu hal yang mengganjal dalam hati kecilku ketika teman dekatku, kepercayaanku, susah senang aku lalui dengannya, teman curhatku, menginginkan aku untuk berkecimpung mengurus kembali buletin himabu yang sudah tidak berbekas lagi, sudah tidak terbit, hilang di telan desingan peluru, ibarat dedaunan saling berguguran seiring pergantian musim, ibarat ilalang terkena terik matahari dan akhirnya terbakar, ibarat sang surya kehilangan karismanya, ibarat sang raja kehilangan tahtanya. Dilematis! itulah gambaran yang ada di hatiku, antara kelas dengan himabu. Terus terang aku tidak bisa kalau mengurusi kedua-duanya secara langsung, aku bimbang, mana yang lebih aku dahulukan? inilah mungkin yang membuat bomerang bagiku, bisa-bisa kesempatan emas ini tidak bisa terealisasikan. Oh..tuhan aku butuh siraman ilham darimu sehingga aku bisa melaksanakan semua ini. Oh..tuhan aku butuh penjelasanmu untuk mensiasati semua ini. Oh..tuhan aku butuh semuanya. Seandainya aku anak pejabat, seandainya aku anak orang terhormat, seandainya aku keturunan muhammad, mungkin hidupku tidak begini.
       Aku harus bangkit menghadapi semua ini, aku harus bisa mengatasi permasalahan ini, aku bukanlah anak yang baru dilahirkan, aku bukanlah sampah masyarakat, aku bukanlah lilin yang bisa menerangi gelapnya dunia sementara dirinya hancur dengan sendirinya, aku adalah manusia yang di lahirkan untuk saling berbagi, berakhlak mulia, bertindak dengan pertimbangan matang, aku adalah manusia yang dilahirkan untuk menemukan jati dirinya. Sejarah kelam merupakan suri tauladan yang berharga, pelajaran yang tidak boleh dilupakan, salah satu hal yang bisa dibuat tendensi. Sebagai manusia yang berpendidikan seharusnya aku tidak boleh terjerumus ke lembah kenistaan ke dua kalinya, permasalahanku harus bisa teratasi secepat mungkin, perubahan sebab refleksi diri, intropeksi diri harus berimbas pada sikapku, kedewasaan harus aku kedepankan. Rasa pesimisme, rendah diri harus aku imbangi dengan rasa optimisme, percaya diri, positif tingking. Semua orang jelas mengalami masalah, baik dari faktor internal maupun eksternal, baik kalangan mayoritas maupun kalangan minoritas, baik kalangan menengah ke atas maupun kalangn menengah ke bawah, itulah yang menjadikan sikap kedewasaan manusia, itulah kehidupan dunia.

                                                                                                                          Tinta Emas


Sang Pengagum


Rasa keinginan untuk berkarya lewat tulisan membuatku terus berpacu, mencoba dan mengembangkan tulisan agar kapasitasnya bisa dinilai. Kerja keras seakan-akan sudah menjadi harga mati buatku dan tidak bisa ditawar lagi. Bayangkan, sudah jam 01.06 WIB aku belum bisa tidur. Imajinasiku melayang sampai ke ubun-ubun, menelusuri dan mencari suatu hal yang bisa aku goreskan di secarik kertas, angan-anganku tidak mau ketinggalan, dia terus mencari hal-hal yang bisa aku lukis melalui tinta emas yang aku pegang. Rasa penasaran membuatku terus mencoba dan bersemangat untuk terus belajar memperbaikinya, rasa capek hilang tidak berbekas ditelan rasa kemauan yang begitu mendalam, bagaikan gelombang ombak menghantam kerikil-kerikil kecil yang ada di oase, bagaikan tegangan listrik menyengat tubuhku. Aneh memang, tidak biasanya semangat 45 yang muncul dalam diriku keluar, bak hewan buas yang  keluar dari sarangnya, bak orator sedang orasi di istana negara, bak seseorang yang di daulat menjadi raja, bak sang surya menyinari sang bulan. Kekuatan yang selama ini aku cari-cari akhirnya muncul juga, seandainya aku bisa konsisten seperti ini, seandainya rasa semangat selalu hinggap di hatiku, seandainya..seandainya..seandainya.. Ah..sudah lah persetan dengan semuanya.
 Hanya itu saja? Tidak, ternyata yang membuatku tidak bisa tidur adalah cerita teman tentang kehidupannya. Ucapannya masih terngiang-ngiang di telingaku, semakin aku mencoba untuk melupakan semakin keraslah suara itu, bermula dari keinginanku menghidupkan kembali buletin himabu, akhirnya aku mengajaknya ke warung kopi (blandongan), langsung saja aku mintai pendapat dan arahan-arahan tentang ke-buletin-an. Tidak aku sangka, ternyata responnya sangat bagus, masukan-masukannya begitu mengena, aku catat hal-hal yang signifikan khawatir ada hal-hal yang terlupakan, setelah itu lantas ia bercerita retorika kehidupannya yang penuh perjuangan, bayangkan dia sudah tidak di biayai orang tuanya, untuk makan keseharian dia berjualan koran di jalan malioboro setiap hari sabtu dan ahad, dia hanya mengandalkan karya tulis kemudian dia kirim ke media masa dan mengharap tulisannya dimuat dalam rubrik koran, sontak hatiku seolah-olah terkena pukulan benda tajam, semakin aku tahan semakin sakit rasanya, lemparan benda tersebut tepat mengenai titik rawan. Sedih, salut, haru campur jadi satu dalam hatiku, luapan emosi seketika muncul tanpa bisa aku kendalikan. Aku berkata pada diriku sendiri “alif bisa meringankan beban orang tua, kenapa kamu tidak bisa? Alif bisa mencari uang sendiri dengan kerja kerasnya, kenapa kamu tidak bisa? Alif kuat menahan rasa lapar, haus, kenapa kamu tidak bisa? Alif selalu bersabar, ikhlas menghadapi semua ini, kenapa kamu tidak bisa? Malu rasanya melihat diriku sendiri, umur mulai menggrogoti tubuhku tetapi kualitas tidak punya sama sekali.
Alif?ya..alif, dialah teman yang membuatku semangat menulis, rasa bosanku hilang begitu saja berkat support darinya, rasa pesimisku sedikit demi sedikit terobati dan akhirnya hilang tidak berbekas berkat dorongannya. Kemampuannya tidak boleh diragukan lagi. Pengalaman, keuletan dalam menghadapi kerasnya dunia patut di acungi jempol, permasalahannya sekarang, bisakah aku menirunya? mengambil suri tauladan darinya? Aku hanya bisa tersenyum dengan hati menangis melihat fakta yang terjadi pada diriku. Sulit rasanya bisa seperti dia karena karakterku dengan dia berbeda, terus terang untuk saat ini aku belum bisa sperti kehidupannya, aku belum siap untuk mernyainginya, aku belum sanggup mengadopsi sisi positifnya, tetapi suatu saat aku pasti bisa seperti dia bahkan lebih baik darinya. Lambat laun semoga itu bisa terjadi sehingga aku bisa meringankan beban orang tua dan sebagai bentuk latihan dalam mengarungi hidup baru.

                                                               Tinta Emas