“Imam,, sudah makan belum? Ini nasinya di makan dulu, kamu harus jagain diri biar gak sakit”, ucap lirih nenek dengan logat jawanya.
“Iya nek, ini masih matiin leptop,” jawab imam.
“Saya ingin sekali punya cucu yang hafal quran, saya iri dengan keluarga saya, mayoritas dari mereka ada yang mewakili, Cuma kamu pengharapan yang bisa mengabulkan keinginanku oleh karena itu yang rajin ya nak,” nasehat nenek dengan suara serak.
Sontak suara lirih itu menghujam ke dada imam, suara yang penuh dengan perasaan kasih sayang dari wanita tua yang sudah berumur 63 tahun. Seorang nenek yang merawatnya 25 tahun silam ketika ayahnya meningal akibat sakit yang menggrogoti tubuhnya. Air mata itu akhirnya mengalir juga, tak kuasa mamad membendung kesedihan yang diderita neneknya. Air mata sebuah pengharapan dan kesedihan dari seorang pemuda yang mempunyai cita-cita untuk hafal al-quran.
“Doa nenek saya nanti-nanti, ini saya sudah dapat 15 juz, sudah ya nek saya berangkat kuliah dulu”, ucap imam dengan mengusap air mata yang mengalir.
Imam mengendarai motor dengan penuh perasaan. Nasehat itu terdengar begitu keras di pikirannya. Gundah, sedih campur menjadi satu ketika mendengar suaranya yang sekian hari semakin melemah, entah itu suara khas sang nenek atau ada sedikit ganjalan-ganjalan yang ada di tenggorokannya. Tiba-tiba “brakk”, imam menubruk seorang perempuan yang sedang melintas di jalanan. Dengan cepat dia lari ke arah perempuan itu,
“Maaf neng tadi aku lagi melamu”, kata imam sambil membantu dia berdiri.
“Makanya mas kalau naik motor jangan ngebut donk”, gerutunya.
“Ayo neng ke Rumah Sakit, masalah biaya biar saya yang urus”, lanjut imam ketika melihat ada darah di tangan kiri perempuan itu.
“Gak usah mas cuma luka ringan, besok juga sudah sembuh”, jawabnya dengan meringis kesakitan.
“Ya sudah, ini ini alamat dan nomor telponku, seandainya butuh uang pengobatan hubungi aku ya??”, tegas imam sambil memberikan kartu nama padanya.
“Terimakasih,, saya pergi dulu, ada hal penting yang harus diselesaikan”, jawabnya.
Imam menggeleng-nggelengkan kepala pertanda rasa takjub, matanya memancarkan hipnotis bagi siapa saja yang melihatnya, lesung pipinya menambah keindahan wajahnya, tai lalat yang menempel di dagunya semakin menarik untuk dipandang, suaranya membuat dia terdiam dan membisu sesaat.
Wanita itu sulit hilang dalam ingatannya, ingatan seorang yang sedang di mabuk cinta, cinta yang tumbuh seketika, menancap dalam relung jiwa. Akan aku catat memori indah itu, dalam hatiku yang terdalam, batin imam.
***
“Mengapa terlambat?”, intograsi bapak dosen.
Imam mencoba memberanikan diri berkata terus terang walaupun dia pesimis bapak dosen mau menerimanya.
“Sebelumnya saya minta maaf pak karena terlambat, tadi waktu perjalanan ada sedikit ganjalan pak, saya menabrak perempuan, untung saja tidak begitu parah sehingga saya bisa meneruskan perjalanan dan akhirnya bisa mengikuti pelajaran bapak” jawab imam dengan wajah tertunduk.
“Itu saja alasannya?” Bentak bapak dosen membuat mental yang sudah tertata rapi hancur berantakan.
“Iya pak”, jawabnya dengan nada pesimis.
“tidak ada toleransi bagi kamu silahkan keluar”.
Imam terpaksa keluar dengan langkah gontai, berat sekali langkah-langkahnya bagaikan memikul beban, “nasib-nasib sudah jatuh, tertimpa tangga pula”, gerutunya.
Langsung saja ia meluncur ke kantin kampus, di samping kanan fakultasnya. Lamunannya mulai melayang kemana-mana. Laksana percikan air yang berjatuhan tidak tentu arah, layaknya pengembara sedang mencari hakekat kehidupan, ibarat taburan bunga membumbung tinggi terbawa tiupan angin, seperti cabang bayi kehilangan induknya.
“Hallo imam,, mikir apaan sih? Serius banget”, kata orang yang tiba-tiba mengagetkannya.
“Hallo juga,, ih resek banget kau farhan, kaget tau”, jawab imam dengan gelagapan.
“Kamu kurang berapa juz lagi sob? ”,,
“Masih lama sob,, baru dapat 15 juz, eh ada yang mau aku curhatin sob ke kamu”, kata imam.
“Sok suit banget kau, emangnya masalah apa? ” Tanya farhan.
“Aku tadi waktu berangkat ke sini menabrak perempuan. Saya tertarik sob dengannya, kata imam. Seandainya aku jadikan balahan jiwa gimana? Cuma persoalannya aku gak tau nama dan nomor teleponnya sob ” sambungnya.
“Itu namanya godaan sob, tegas farhan. Tapi sah-sah saja sih dengan catatan kamu mempuyai tujuan baik. Saya ke perpustakaan dulu ya, cari refrensi buat ngerjain makalah”, sambungnya.
Dilematis! itulah gambaran yang ada di hatiku. Aku bimbang, mana yang lebih aku dahulukan? inilah mungkin yang membuat bomerang bagiku, bisa. Oh.. Tuhan aku butuh penjelasanmu untuk mensiasati semua ini. Oh.. Tuhan aku butuh semuanya. Seandainya aku anak pejabat, seandainya aku anak orang terhormat, seandainya aku keturunan muhammad, mungkin hidupku lebih terhormat, batinnya.
***
Sila tersenyum melihat dua angsa yang sedang berjejer di teras rumah. Pekarangan yang luas nan indah dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Sepoi angin menggiring semerbak wangi sang bunga ke penjuru halaman rumah tersebut. Sungguh romantis suasana pada saat itu. Burung-burung ikut memperhatikan dan menyanyikan lagu untuk sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Sang angsa pun semakin memamerkan percintaannya pada sekelibet mata yang sedang menyaksikannya. Kasih sayangnya membuat lamunan sila pergi kemana-mana.
“Aneh,, setiap melihat pemandangan yang indah aku selalu teringat kejadian itu”, gerutunya. Sila mencoba mengingat kembali wajah lelaki yang menubruk tubuhnya. pikiran sila berputar mencari sosok yang telah hilang dari sisinya. Dia teringat kartu nama yang telah diberikan kepadanya.
“Lagi mikirin apa sila?”,,
“Lagi kepikiran seseorang mbak Dila,, kok aneh ya, setiap melihat pemandangan indah nan elok aku selalu kepikiran dia?”, Tanya sila.
“Ya itu sila yang namanya dari mata turun ke hati”, jawab dila enteng.
“Ih,, mbak dila kok gitu sich, sebel dech”,, kata dila ketus. “Lagian saya lihat dia Cuma satu kali doang kok, kata pepatah jawa kan benih-benih cinta timbul sebab sering bertemu”, sambungnya.
“Namanya siapa sih dek?”,,
“Imam Hernandez, ini kartu namanya”, jawab sila sambil memberikan kartu namanya.
“Wih,, lumayan cakep dek, kamu telpon aja tu orang, sambil kenalan siapa tau cocok”, goda dila.
“Masuk juga ya usul mbak dila, gue piker-pikir dulu dech,,”.
***
Farhan menghidupkan leptopnya. Leptop pemberian sanak familinya yang berada di Jakarta. Untuk seorang yang lagi mencari jati dirinya. Imam terkejut ketika melihat email masuk. “lamunanku selalu mengarah pada kejadian masa lalu, ketika seorang laki-laki pengendara motor menabrakku, entah apakah pikirannya sama dengan pikiranku, yang jelas wajahnya selalu membayangiku”.
Layaknya orator sedang orasi di istana Negara, laksana seseorang yang di daulat menjadi raja, ibarat sang surya menyinari tatanan surya. Langsung saja dia membalasnya dengan semangat 45. Wanita yang saya dambakan juga punya pikiran sama, gumannya. “Senandung rindu itu mulai menyelinap masuk ke hatiku, melalui pori-pori kecil. tak mampu aku menahannya, mendambakan sang bulan yang menempel di dinding jiwaku, tak kuasa aku menahan kebahagiaan, ketika sang bulan menampakkan wajahnya, yang siap menerangiku”.
“Imam,, kamu lagi ngapain sih, gak kuliah?”, Tanya farhan.
“Gak sob, dosennya pergi ke luar kota. Ini nih, balas email cewek yang pernah aku ceritakan”,,,
“Beneran sob kamu cinta sama dia? Terus qurannya mau kamu lupakan?”, tanya farhan agak marah.
“Hatiku tidak bisa bohong sob, jujur saja aku memendam rasa kepadanya. aku sekarang sudah dapat 25 juz, aku yakin quran itu tidak akan terbengkelai. Saya akan menyelam sambil minum air sob”,,
“Kalau itu baik bagimu, aku akan mendukung sob, tapi harus tetap pada aturan main. Gue cabut duluan, mau nganter mbak ke pasar”, kata farhan.
“Ok lah kalau begitu”,,
Imam merenung sendirian di perpustakaan kampus. Imajinasinya melayang mencari tema yang pas untuk didiskripsikan. Hp imam bergetar pertanda dapat sms. “Selamat siang,, ini imam ya? Saya sila. Kata-katamu puitis banget lo. Imam,, buatin puisi donk mau aku baca pada malam apresiasi seni di kampusku, ok?”. Imam membalasnya, “ok,, kapan bisa kamu ambil? Tapi jangan besok ya, soalnya waktuku setor hafalan quran ke pak ustadz”. “wow ternyata tak salah orang aku. Selain piawai merangkai kata, kamu juga calon khafidz. Kita ketemu lusa di pekarangan tuna rungu jam 15.00 gimana?”, Tanya sila. “Siap neng sila he,, he,,”.
***
“Hati imam bergetar menantikan sila yang belum juga datang. Nerfes, grogi, canggung campur jadi satu. Baru kali ini saya bicara dari hati kehati dengan perempuan. Semoga saja utopis itu bisa menjadi realistis, batinnya.
“Selamat sore imam, sorry ya saya terlambat, soalnya ada gangguan”, kata sila memulai pembicaraan.
“Selamat sore juga, gak papa kok. Ini puisinya”, kata imam dengan nada kaku.
“Biasa saja imam, ketemu aku saja nerfesnya minta ampun”, candanya. Kamu sudah dapat berapa juz imam?”, sambung sila.
“Ih,, siapa juga yang nerfes, gak gue banget ah”, elak imam. Lumayan sila, aku sudah dapat 25 juz, tinggal 5 juz lagi. Sila ada yang mau aku omongin deh sama kamu”, sambungnya.
“Harus itu,, soal puisi ini kan? ”, Tanya sila.
“Iya, tapi yang paling penting adalah soal diriku. Semenjak kejadian itu, sebelum dan sesudah tau namamu, imajinasiku selalu mengarah ke wajahmu. Entah, ini nafsu birahi atau murni dari lubuk hati, yang jelas senandung suara indahmumu menusuk jantung kalbu. Maukah kamu jadi bagian hidupku? ”, Tanya imam dengan seuntai harapan.
“Alhamdulillah,, saya mau imam jadi belahan jiwamu, dari dulu aku sudah mendambakan punya cowok yang hafal quran. Ternyata keinginan itu terkabul juga”, jawab sila.
“Trimakasih sila, engkau telah merubah dunia khayalku menjadi dinia nyata. Aku pikir, itu hanya lamunan pujangga yang sedang dilanda cinta. Khayalan seseorang yang hanya ada dalam dunia utopis”, tegas imam dengan wajah berseri-seri.
Akhirnya mereka menjalin sebuah hubungan. Hubungan manusia yang di lahirkan untuk saling berbagi, berakhlak mulia, bertindak dengan pertimbangan matang.