Kamis, 01 Desember 2011

iseng2 jilid satu


Entah dilatar belakangi oleh pengalaman pribadi atau cuma iseng. (kita anggap iseng-iseng berhadiah saja lah). Tiba-tiba saya ingin membahas problem yang selama ini mengganjal dalam kehidupan social, yaitu penghisapan atau perbudakan yang dialami Masarakat pada umumnya. Berangkat dari kekaguman penulis pada suatu organisasi.
eits,, kasih tau gak ya? Gak mau ah, ntar malah terjadi diskriminasi. Tapi tenang saja pembaca boleh menafsirkan kok, yang jelas bukan cuma satu organ. Setelah ikut organisasi dengan tujuan ingin mendapatkan wawasan, penulis pun mengikuti prihal yang telah dikatakan oleh teman yang mempunyai kedudukan lebih tinggi, baik dari segi jabatan atau umur. Lama kelamaan penulis pun berfikir, suasananya kok begini ya? Saya cuma dijadikan alat untuk kepentingan mereka, konkritnya melestarikan system pemplokotoan.
Lantas perbudakan secara definitive itu apa sih? Penulis bukan pakar sosiologi atau pakar-pakar apa lah yang konsentrasinya menelaah term di atas, tapi yang jelas kasus yang terjadi pada sosio cultural Arab pra maupun pasca Islam sebelum ada penghapusan menyoal system perbudakan bisa dijadikan rangsangan untuk mendefinisikan. Fenomena yang terjadi pada waktu itu budak bagaikan barang. Mereka harus menuruti perintah dari tuannya tanpa ada gaji atau bayaran, bahkan jika perempuan maka halal bagi si tuan mensetubuhinya. Seorang budak bisa didapat melalui transaksi jual beli, dan juga melalui ekspansi.
Lain halnya dengan konteks Indonesia. Kita tentunya masih ingat dengan istilah romusha pada masa imperialisme Jepang, dimana tenaga Rakyat sekaligus sumberdaya alam Bumi pertiwi dikeruk habis untuk menjaga ketahanan pangan Negara samurai ketika terjadi perang pasifik. Rakyat hanya mendapatkan sedikit dari penghasilan. Bahkan yang harus di tanam pun harus sesuai dengan kebutuhan mereka, jika tidak sebetan pedang akan diterima. (merinding kan? Mendengar cerita tersebut).
Dua deskripsi di atas kalau kita telaah sebenarnya yang menjadi titik tekan terletak pada aspek ekonomi serta aspek kepuasan. Dikatakan aspek ekonomi karena penindas menghisap harta benda tanpa memeperdulikan nasib yang ditindas. Meliputi aspek kepuasan karena selain mengejar keuntungan pribadi atau golongan, perampas mempermainkan raga mereka, dengan cara menodai perempuan. (Katanya sih gitu, bersetubuh itu nikmat hehe). Selain itu adanya kerelaan terhadap tindakan diskriminasi yang dilakukan oleh penindas. (ya pasti lah, kalau melawan namanya bukan budak). Tapi bagaimana ya redaksinya mengenai definisi perbudakan? Ah sudahlah biar pembaca saja yang mencoba menawarkan gagasan berikut teorinya.
Selain menelorkan definisi, deskripsi di atas pandangan penulis juga menjelaskan ruang lingkup dari penindasan. Perbudakan selalu ada di mana-mana baik dalam lingkup organisasi, kehidupan bermasyarakat, bahkan pertemanan. Selama akal masih berputar, penghisapan adalah keniscayaan. Nampaknya dalam hal ini meminjam istilah Thomas Hobbes, Manusia adalah srigala bagi Manusia lain memang benar-benar terjadi. Undang-undang pun akan mentah, dalam arti kata tidak akan berlaku jika kebringasan akal tidak bisa dikendalikan. Kecuali jika proses ideologisasi atau indoktrinasi berjalan mulus. Maka ideology itulah yang akan menetralisir keagresifan akal.
Kita tidak akan lupa pergerakan ala marxis yang lebih populer dengan sebutan sosialis. Propaganda utama faham ini adalah pertentangan kelas. Dalam kehidupan ada yang namanya kelas borjuis, ada pula kelas proletar. Kelas borjuis selalu menghisap kelas proletar. Propaganda tersebut menjadi langkah awal sebagai upaya penyadaran terhadap status sosial. Faham ini sempat mendapatkan tempat di hati masyarakat, terbukti dengan kemenangan melawan kaum kapitalis pada waktu itu. (tapi kapan ya? Saya lupa je hehe).
Hanya saja penulis tidak yakin kalau aliran ini konsisten mendeklarasikan anti perbudakan. Setiap indifidu dari mereka pasti menginginkannya. Fakta membuktikan ketika Stalin sudah di atas kertas memenangi perpolitikan, dia menindas anggotanya demi kepentingan pribadi. (kata teman-teman sih gitu hehe). Semua barang yang dimiliki oleh Rakyat telah disita oleh Negara, tapi kesejahteraan pun tidak kunjung datang.
Islam pun pandangan penulis sepakat dengan adanya pertentangan kelas. Hadist yang bersinggungan dengan etos kerja “… tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” dan dihubungkan dengan sabda Tuhan persolana zakat, secara tersirat memunculkan pemahaman si kaya dan si miskin. Namun aspek intimidasi (si kaya menindas si miskin atau sebaliknya) secara tegas Islam melarang.
Pembahasan ini semakin menarik jika kita menggunakan pendekatan watak orang jawa. Perbudakan seakan-akan tidak ada, karena aspek etika lebih menguasai jiwa Manusia Jawa. Secara eksplisit interaksi social terjadi diskriminasi tapi dengan santai orang jawa bilang “yang namanya belajar ya seperti ini, suatu saat saya pasti mendapat buahnya”. Aspek etika inilah yang lebih ditekan kan dalam kehidupan social. hal inilah yang kemudian memunculkan kesimpulan perbudakan dalam kontek Manusia Jawa sebenarnya tidak ada.
beberapa hari yang lalu saya sempat berbicara empat mata dengan seseorang mengenai organisasi. Dengan lantang dia berkata kita berorganisasi pada dasarnya sebagai bekal ketika kita sudah berada di tempat masing-masing. Ketika kita diperintah untuk melakukan sesuatu kita ambil hikmahnya saja lah. Perkataan semacam ini hemat penulis adalah berlandaskan pada etika ketika berorganisasi. Lagi-lagi yang ada dibenak penulis enek opo ora sih perbudakan iku?.

Jumat, 15 Juli 2011

Lumbung itu Bernama Parpol


Dewasa problemtaika kebangsaan yang melanda Bumi Pertiwi sebagaimana kita lihat di layar televisi atau surat kabar adalah persoalan klasik yang sampai saat ini belum ada solusi efektif mengenai pemberantasannya yaitu korupsi. Anehnya justru akar masalahnya lahir dari Partai Politik. Kita tentunya masih ingat dengan dugaan suap yang diterima oleh Menpora Andi Malarangeing serta Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum setelah ditetapkannya Nazaruddin sebagai tersangka.
Sikap Nazaruddin yang telah menghambat kemakmuran Rakyat, kalau kita telaah lebih dalam bukan lagi anomaly dari tiap-tiap kader partai, melainkan pemburu rente yang mendapat perlindungan dari organisasi ataupun partai. Penulis tidak akan memungkiri bahwa anomaly kader terhadap organisasi pasti terjadi, tapi dalam konteks ini sangatlah berbeda. Sebagai contoh sebelum ditetapkannya Nazaruddin sebagai tersangka banyak sekali kader Partai Demokrat yang menepis anggapan bahwa Mantan Bendahara Partai Demokrat tersebut melakukan tindak korupsi, artinya setiap kader saling melindungi satu sama lain agar citra baik sebuah partai tetap terjaga.
Kita juga pastinya tidak akan lalai dengan proses pengambilan kebijakan menyoal century dan perpajakan, dimana antar Partai Politik (parpol) dengan mengatasnamakan Rakyat bersaing mempertahankan gagasannya agar tetap diterima sampai putusan akhir. Bahkan tak jarang mereka debat kusir tidak berlandaskan atas kesadaran bahwa status mereka sebagai panutan, padahal kalau hal ini benar-benar atas kepentingan Masyarakat tentunya parpol yang menggagas bahwa Century bermasalah terus mengawal sampai KPK memutuskan. Faktanya Century sampai saat ini belum menemui titik terang, dan tidak ada kawalan secara khusus dari parpol terhadap kasus tersebut.
Hal ini sangat disayangkan sekali sebuah partai yang menjadi wadah aspirasi masyarakat dalam keterlibatannya dengan urusan Negara sebagai titik kebangkitan menuju kedaulatan politik dan ekonomi malakukan tindakan amoral serta melenceng dari landasan pancasila maupun UUD 45. Malahan mereka bukan lagi membawa gagasan Rakyat, mengabdi untuk kemaslahatan bersama, melainkan sudah menjadi oligarki dan lumbung baru yang siap mengeruk kekayaan, serta siap menjatuhkan oligarki lain. Kalau sudah terjadi seperti ini, proses menuju kemakmuran akan mengalami stagnasi, bahkan akan menghambat demokratisasi di Indonesia, lagi-lagi Orang miskin lah yang menjadi korban. Hal ini sangat jauh dari cita-cita adanya menifesto sumpah pemuda.
Sejarah telah mencatat bahwa manifesto sumpah pemuda berhasil dideklarasikan berkat kesadaran atas urgennya sebuah persatuan dan kesatuan dalam rangka melawan penjajahan di muka bumi Indonesia, baik penindasan ekonomi atau poitik. Propaganda tersebut terbilang ampuh sehingga mendapat kepercayaan di hati masyarakat karena murni tidak lain didasarkan pada kepentingan rakyat, bukan kepentingan kelompok atau individu. Nah hal inilah yang harus dilakukan oleh parpol, yaitu kesadaran untuk terus bersatu demi tercapainya kedaulatan.

Senin, 27 Juni 2011

Penegetahuan Tanpa Moralitas

Penulis pernah bertatap muka dengan dosen dalam perkuliahan. Semula proses belajar bejalan seperti biasa, tapi mendekati berakhirnya waktu, dia berujar “kalau tidak ada pertanyaan maka saya tutup pertemuan ini”. Sepintas penulis berfikir, apakah fungsi pendidik hanya sesimpel itu? Pendidik hanya mentransformasikan ilmu tanpa membentuk karakter anak didik. Layaknya perdagangan, status guru sama halnya dengan penjual. Sekalipun pendidikan tidak bisa disamakan dengan perdagangan tapi realita berkata demikian, barangkali lebih tepatnya perdagangan bermotif pendidikan.
Inilah salah satu fenomena pendidikan formal yang pernah saya rasakan. Sekalipun metode Perguruan Tinggi harus berbeda dengan pendidikan di bawahnya. Penulis sendiri menyadari hal ini merupakan persoalan klasik yang banyak sekali gagasan segar tentang pendidikan ideal. Semisal Paulo Freire dengan konsep pendidikan ala memanusiakan manusia, Ariy Ginanjar yang mencoba menggabungkan antara emosi dan nurani dalam proses pembelajaran, tapi sejauh pengamatan penulis konsep-konsep tersebut hanya selesai pada wilah teori tanpa ada implementasi yang jelas walaupun sudah dikaji dalam dunia akademik. Nah berangkat dari sinilah hemat penulis permasalahan ini layak untuk diangkat kembali.
Fakta di atas telah menjadi saksi bahwa pendidik dengan anak didik mempunyai jalan dan kepentingan sendiri-sendiri. Guru dengan bekal pengalamannya menjual, dan mengobral keilmuannya pada Murid. Sedangkan Murid mempunyai kepentingan agar mengetahui hal-hal yang diajarkan sebagai bekal masa mendatang. Bagaimana mungkin proses pendidikan seperti ini bisa membentuk moralitas Bangsa dan menghasilkan pendidikan yang sesuai dengan cita-cita Negara; mencerdaskan kehidupan Bangsa, jika emosional keduanya tidak terbangun. Paradigma tersebut akan berimplikasi buruk pada pola pikir anak didik. Jika salah tangkap mereka akan berpikiran bahwa tujuan pendidikan hanyalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.
Hal ini merupakan proses pendidikan yang jauh dari gagasan Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarso sung tulodo ing madyo mbangun karso tutwuri handayani. Pendidikan kolektivitas dimana unsur-unsur yang ada dalam pendidikan berjalan-berkesinambungan. Syistem pendidikan tidak boleh menguntungkan sepihak. Sedangkan pendidik harus bisa menjadi contoh bagi anak didik, begitu pula sebaliknya. Maksudnya anak didik haruslah aktif, tidak boleh apatis terhadap semua hal mengenai pendidikan.
Menurut penulis ada dua hal yang semestinya harus didapat anak didik yaitu keilmuan dan yang lebih penting adalah moralitas sebagai pembentukan karakter. Pengetahuan tanpa moralitas akan berimplikasi buruk pada tata-kehidupan Masyarakat. Dewasa ini, kita di suguhi berbagai kasus, semisal dugaan korupsi Nazaruddin, aksi nyontek bersama waktu pelakanaan ujian nasional, wartawan bengkulu dibakar karena akan mengungkap tentang APBD Bengkulu. Semuanya jika kita telaah akar masalah akan terpusat pada satu titik, yaitu dekadensi moral. 

Selasa, 01 Maret 2011

perempuan itu bernama sila


Imam,, sudah makan belum? Ini nasinya di makan dulu, kamu harus jagain diri biar gak sakit”, ucap lirih nenek dengan logat jawanya.
“Iya nek, ini masih matiin leptop,” jawab imam.
“Saya ingin sekali punya cucu yang hafal quran, saya iri dengan keluarga saya, mayoritas dari mereka ada yang mewakili, Cuma kamu pengharapan yang bisa mengabulkan keinginanku oleh karena itu yang rajin ya nak,” nasehat nenek dengan suara serak.
Sontak suara lirih itu menghujam ke dada imam, suara yang penuh dengan perasaan kasih sayang dari wanita tua yang sudah berumur 63 tahun. Seorang nenek yang merawatnya 25 tahun silam ketika ayahnya meningal akibat sakit yang menggrogoti tubuhnya. Air mata itu akhirnya mengalir juga, tak kuasa mamad membendung kesedihan yang diderita neneknya. Air mata sebuah pengharapan dan kesedihan dari seorang pemuda yang mempunyai cita-cita untuk hafal al-quran.
“Doa nenek saya nanti-nanti, ini saya sudah dapat 15 juz, sudah ya nek saya berangkat kuliah dulu”, ucap imam dengan mengusap air mata yang mengalir.
Imam mengendarai motor dengan penuh perasaan. Nasehat itu terdengar begitu keras di pikirannya. Gundah, sedih campur menjadi satu ketika mendengar suaranya yang sekian hari semakin melemah, entah itu suara khas sang nenek atau ada sedikit ganjalan-ganjalan yang ada di tenggorokannya. Tiba-tiba “brakk”, imam menubruk seorang perempuan yang sedang melintas di jalanan. Dengan cepat dia lari ke arah perempuan itu,
“Maaf neng tadi aku lagi melamu”, kata imam sambil membantu dia berdiri.
“Makanya mas kalau naik motor jangan ngebut donk”, gerutunya.
“Ayo neng ke Rumah Sakit, masalah biaya biar saya yang urus”, lanjut imam ketika melihat ada darah di tangan kiri perempuan itu.
“Gak usah mas cuma luka ringan, besok juga sudah sembuh”, jawabnya dengan meringis kesakitan.
“Ya sudah, ini ini alamat dan nomor telponku, seandainya butuh uang pengobatan hubungi aku ya??”, tegas imam sambil memberikan kartu nama padanya.
“Terimakasih,, saya pergi dulu, ada hal penting yang harus diselesaikan”, jawabnya.
Imam menggeleng-nggelengkan kepala pertanda rasa takjub, matanya memancarkan hipnotis bagi siapa saja yang melihatnya, lesung pipinya menambah keindahan wajahnya, tai lalat yang menempel di dagunya semakin menarik untuk dipandang, suaranya membuat dia terdiam dan membisu sesaat.
Wanita itu sulit hilang dalam ingatannya, ingatan seorang yang sedang di mabuk cinta, cinta yang tumbuh seketika, menancap dalam relung jiwa. Akan aku catat memori indah itu, dalam hatiku yang terdalam, batin imam.
***
“Mengapa terlambat?”, intograsi bapak dosen.
Imam mencoba memberanikan diri berkata terus terang walaupun dia pesimis bapak dosen mau menerimanya.
“Sebelumnya saya minta maaf pak karena terlambat, tadi waktu perjalanan ada sedikit ganjalan pak, saya menabrak perempuan, untung saja tidak begitu parah sehingga saya bisa meneruskan perjalanan dan akhirnya bisa mengikuti pelajaran bapak” jawab imam dengan wajah tertunduk.
Itu saja alasannya? Bentak bapak dosen membuat mental yang sudah tertata rapi hancur berantakan.
Iya pak, jawabnya dengan nada pesimis.
tidak ada toleransi bagi kamu silahkan keluar”.
Imam terpaksa keluar dengan langkah gontai, berat sekali langkah-langkahnya bagaikan memikul beban, “nasib-nasib sudah jatuh, tertimpa tangga pula”, gerutunya.
Langsung saja ia meluncur ke kantin kampus, di samping kanan fakultasnya. Lamunannya mulai melayang kemana-mana. Laksana percikan air yang berjatuhan tidak tentu arah, layaknya pengembara sedang mencari hakekat kehidupan, ibarat taburan bunga membumbung tinggi terbawa tiupan angin, seperti cabang bayi kehilangan induknya.
“Hallo imam,, mikir apaan sih? Serius banget”, kata orang yang tiba-tiba mengagetkannya.
“Hallo juga,, ih resek banget kau farhan, kaget tau”, jawab imam dengan gelagapan.
“Kamu kurang berapa juz lagi sob? ”,,
“Masih lama sob,, baru dapat 15 juz, eh ada yang mau aku curhatin sob ke kamu”, kata imam.
“Sok suit banget kau, emangnya masalah apa? ” Tanya farhan.
“Aku tadi waktu berangkat ke sini menabrak perempuan. Saya tertarik sob dengannya, kata imam. Seandainya aku jadikan balahan jiwa gimana? Cuma persoalannya aku gak tau nama dan nomor teleponnya sob ” sambungnya.
“Itu namanya godaan sob, tegas farhan. Tapi sah-sah saja sih dengan catatan kamu mempuyai tujuan baik. Saya ke perpustakaan dulu ya, cari refrensi buat ngerjain makalah”, sambungnya.
Dilematis! itulah gambaran yang ada di hatiku. Aku bimbang, mana yang lebih aku dahulukan? inilah mungkin yang membuat bomerang bagiku, bisa. Oh.. Tuhan aku butuh penjelasanmu untuk mensiasati semua ini. Oh.. Tuhan aku butuh semuanya. Seandainya aku anak pejabat, seandainya aku anak orang terhormat, seandainya aku keturunan muhammad, mungkin hidupku lebih terhormat, batinnya.
***
Sila tersenyum melihat dua angsa yang sedang berjejer di teras rumah. Pekarangan yang luas nan indah dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Sepoi angin menggiring semerbak wangi sang bunga ke penjuru halaman rumah tersebut. Sungguh romantis suasana pada saat itu. Burung-burung ikut memperhatikan dan menyanyikan lagu untuk sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Sang angsa pun semakin memamerkan percintaannya pada sekelibet mata yang sedang menyaksikannya. Kasih sayangnya membuat lamunan sila pergi kemana-mana.
“Aneh,, setiap melihat pemandangan yang indah aku selalu teringat kejadian itu”, gerutunya. Sila mencoba mengingat kembali wajah lelaki yang menubruk tubuhnya. pikiran sila berputar mencari sosok yang telah hilang dari sisinya. Dia teringat kartu nama yang telah diberikan kepadanya.
“Lagi mikirin apa sila?”,,
“Lagi kepikiran seseorang mbak Dila,, kok aneh ya, setiap melihat pemandangan indah nan elok aku selalu kepikiran dia?”, Tanya sila.
“Ya itu sila yang namanya dari mata turun ke hati”, jawab dila enteng.
“Ih,, mbak dila kok gitu sich, sebel dech”,, kata dila ketus. “Lagian saya lihat dia Cuma satu kali doang kok, kata pepatah jawa kan benih-benih cinta timbul sebab sering bertemu”, sambungnya.
“Namanya siapa sih dek?”,,
“Imam Hernandez, ini kartu namanya”, jawab sila sambil memberikan kartu namanya.
“Wih,, lumayan cakep dek, kamu telpon aja tu orang, sambil kenalan siapa tau cocok”, goda dila.
“Masuk juga ya usul mbak dila, gue piker-pikir dulu dech,,”.
***
Farhan menghidupkan leptopnya. Leptop pemberian sanak familinya yang berada di Jakarta. Untuk seorang yang lagi mencari jati dirinya. Imam terkejut ketika melihat email masuk. “lamunanku selalu mengarah pada kejadian masa lalu, ketika seorang laki-laki pengendara motor menabrakku, entah apakah pikirannya sama dengan pikiranku, yang jelas wajahnya selalu membayangiku”.
Layaknya orator sedang orasi di istana Negara, laksana seseorang yang di daulat menjadi raja, ibarat sang surya menyinari tatanan surya. Langsung saja dia membalasnya dengan semangat 45. Wanita yang saya dambakan juga punya pikiran sama, gumannya. “Senandung rindu itu mulai menyelinap masuk ke hatiku, melalui pori-pori kecil. tak mampu aku menahannya, mendambakan sang bulan yang menempel di dinding jiwaku, tak kuasa aku menahan kebahagiaan, ketika sang bulan menampakkan wajahnya, yang siap menerangiku”.  
“Imam,, kamu lagi ngapain sih, gak kuliah?”, Tanya farhan.
“Gak sob, dosennya pergi ke luar kota. Ini nih, balas email cewek yang pernah aku ceritakan”,,,
“Beneran sob kamu cinta sama dia? Terus qurannya mau kamu lupakan?”, tanya farhan agak marah.
“Hatiku tidak bisa bohong sob, jujur saja aku memendam rasa kepadanya. aku sekarang sudah dapat 25 juz, aku yakin quran itu tidak akan terbengkelai. Saya akan menyelam sambil minum air sob”,,
“Kalau itu baik bagimu, aku akan mendukung sob, tapi harus tetap pada aturan main. Gue cabut duluan, mau nganter mbak ke pasar”, kata farhan.
“Ok lah kalau begitu”,,
Imam merenung sendirian di perpustakaan kampus. Imajinasinya melayang mencari tema yang pas untuk didiskripsikan. Hp imam bergetar pertanda dapat sms. “Selamat siang,, ini imam ya? Saya sila. Kata-katamu puitis banget lo. Imam,, buatin puisi donk mau aku baca pada malam apresiasi seni di kampusku, ok?”. Imam membalasnya, “ok,, kapan bisa kamu ambil? Tapi jangan besok ya, soalnya waktuku setor hafalan quran ke pak ustadz”. “wow ternyata tak salah orang aku. Selain piawai merangkai kata, kamu juga calon khafidz. Kita ketemu lusa di pekarangan tuna rungu jam 15.00 gimana?”, Tanya sila. “Siap neng sila he,, he,,”.
***
Hati imam bergetar menantikan sila yang belum juga datang. Nerfes, grogi, canggung campur jadi satu. Baru kali ini saya bicara dari hati kehati dengan perempuan. Semoga saja utopis itu bisa menjadi realistis, batinnya.
Selamat sore imam, sorry ya saya terlambat, soalnya ada gangguan”, kata sila memulai pembicaraan.
Selamat sore juga, gak papa kok. Ini puisinya”, kata imam dengan nada kaku.
Biasa saja imam, ketemu aku saja nerfesnya minta ampun”, candanya. Kamu sudah dapat berapa juz imam?”, sambung sila.
Ih,, siapa juga yang nerfes, gak gue banget ah”, elak imam. Lumayan sila, aku sudah dapat 25 juz, tinggal 5 juz lagi. Sila ada yang mau aku omongin deh sama kamu”, sambungnya.
Harus itu,, soal puisi ini kan? ”, Tanya sila.
Iya, tapi yang paling penting adalah soal diriku. Semenjak kejadian itu, sebelum dan sesudah tau namamu, imajinasiku selalu mengarah ke wajahmu. Entah, ini nafsu birahi atau murni dari lubuk hati, yang jelas senandung suara indahmumu menusuk jantung kalbu. Maukah kamu jadi bagian hidupku? ”, Tanya imam dengan seuntai harapan.
Alhamdulillah,, saya mau imam jadi belahan jiwamu, dari dulu aku sudah mendambakan punya cowok  yang hafal quran. Ternyata keinginan itu terkabul juga”, jawab sila.
Trimakasih sila, engkau telah merubah dunia khayalku menjadi dinia nyata. Aku pikir, itu hanya lamunan pujangga yang sedang dilanda cinta. Khayalan seseorang yang hanya ada dalam dunia utopis”, tegas imam dengan wajah berseri-seri.
Akhirnya mereka menjalin sebuah hubungan. Hubungan manusia yang di lahirkan untuk saling berbagi, berakhlak mulia, bertindak dengan pertimbangan matang.