Senin, 27 Juni 2011

Penegetahuan Tanpa Moralitas

Penulis pernah bertatap muka dengan dosen dalam perkuliahan. Semula proses belajar bejalan seperti biasa, tapi mendekati berakhirnya waktu, dia berujar “kalau tidak ada pertanyaan maka saya tutup pertemuan ini”. Sepintas penulis berfikir, apakah fungsi pendidik hanya sesimpel itu? Pendidik hanya mentransformasikan ilmu tanpa membentuk karakter anak didik. Layaknya perdagangan, status guru sama halnya dengan penjual. Sekalipun pendidikan tidak bisa disamakan dengan perdagangan tapi realita berkata demikian, barangkali lebih tepatnya perdagangan bermotif pendidikan.
Inilah salah satu fenomena pendidikan formal yang pernah saya rasakan. Sekalipun metode Perguruan Tinggi harus berbeda dengan pendidikan di bawahnya. Penulis sendiri menyadari hal ini merupakan persoalan klasik yang banyak sekali gagasan segar tentang pendidikan ideal. Semisal Paulo Freire dengan konsep pendidikan ala memanusiakan manusia, Ariy Ginanjar yang mencoba menggabungkan antara emosi dan nurani dalam proses pembelajaran, tapi sejauh pengamatan penulis konsep-konsep tersebut hanya selesai pada wilah teori tanpa ada implementasi yang jelas walaupun sudah dikaji dalam dunia akademik. Nah berangkat dari sinilah hemat penulis permasalahan ini layak untuk diangkat kembali.
Fakta di atas telah menjadi saksi bahwa pendidik dengan anak didik mempunyai jalan dan kepentingan sendiri-sendiri. Guru dengan bekal pengalamannya menjual, dan mengobral keilmuannya pada Murid. Sedangkan Murid mempunyai kepentingan agar mengetahui hal-hal yang diajarkan sebagai bekal masa mendatang. Bagaimana mungkin proses pendidikan seperti ini bisa membentuk moralitas Bangsa dan menghasilkan pendidikan yang sesuai dengan cita-cita Negara; mencerdaskan kehidupan Bangsa, jika emosional keduanya tidak terbangun. Paradigma tersebut akan berimplikasi buruk pada pola pikir anak didik. Jika salah tangkap mereka akan berpikiran bahwa tujuan pendidikan hanyalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.
Hal ini merupakan proses pendidikan yang jauh dari gagasan Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarso sung tulodo ing madyo mbangun karso tutwuri handayani. Pendidikan kolektivitas dimana unsur-unsur yang ada dalam pendidikan berjalan-berkesinambungan. Syistem pendidikan tidak boleh menguntungkan sepihak. Sedangkan pendidik harus bisa menjadi contoh bagi anak didik, begitu pula sebaliknya. Maksudnya anak didik haruslah aktif, tidak boleh apatis terhadap semua hal mengenai pendidikan.
Menurut penulis ada dua hal yang semestinya harus didapat anak didik yaitu keilmuan dan yang lebih penting adalah moralitas sebagai pembentukan karakter. Pengetahuan tanpa moralitas akan berimplikasi buruk pada tata-kehidupan Masyarakat. Dewasa ini, kita di suguhi berbagai kasus, semisal dugaan korupsi Nazaruddin, aksi nyontek bersama waktu pelakanaan ujian nasional, wartawan bengkulu dibakar karena akan mengungkap tentang APBD Bengkulu. Semuanya jika kita telaah akar masalah akan terpusat pada satu titik, yaitu dekadensi moral.