Kamis, 01 Desember 2011

iseng2 jilid satu


Entah dilatar belakangi oleh pengalaman pribadi atau cuma iseng. (kita anggap iseng-iseng berhadiah saja lah). Tiba-tiba saya ingin membahas problem yang selama ini mengganjal dalam kehidupan social, yaitu penghisapan atau perbudakan yang dialami Masarakat pada umumnya. Berangkat dari kekaguman penulis pada suatu organisasi.
eits,, kasih tau gak ya? Gak mau ah, ntar malah terjadi diskriminasi. Tapi tenang saja pembaca boleh menafsirkan kok, yang jelas bukan cuma satu organ. Setelah ikut organisasi dengan tujuan ingin mendapatkan wawasan, penulis pun mengikuti prihal yang telah dikatakan oleh teman yang mempunyai kedudukan lebih tinggi, baik dari segi jabatan atau umur. Lama kelamaan penulis pun berfikir, suasananya kok begini ya? Saya cuma dijadikan alat untuk kepentingan mereka, konkritnya melestarikan system pemplokotoan.
Lantas perbudakan secara definitive itu apa sih? Penulis bukan pakar sosiologi atau pakar-pakar apa lah yang konsentrasinya menelaah term di atas, tapi yang jelas kasus yang terjadi pada sosio cultural Arab pra maupun pasca Islam sebelum ada penghapusan menyoal system perbudakan bisa dijadikan rangsangan untuk mendefinisikan. Fenomena yang terjadi pada waktu itu budak bagaikan barang. Mereka harus menuruti perintah dari tuannya tanpa ada gaji atau bayaran, bahkan jika perempuan maka halal bagi si tuan mensetubuhinya. Seorang budak bisa didapat melalui transaksi jual beli, dan juga melalui ekspansi.
Lain halnya dengan konteks Indonesia. Kita tentunya masih ingat dengan istilah romusha pada masa imperialisme Jepang, dimana tenaga Rakyat sekaligus sumberdaya alam Bumi pertiwi dikeruk habis untuk menjaga ketahanan pangan Negara samurai ketika terjadi perang pasifik. Rakyat hanya mendapatkan sedikit dari penghasilan. Bahkan yang harus di tanam pun harus sesuai dengan kebutuhan mereka, jika tidak sebetan pedang akan diterima. (merinding kan? Mendengar cerita tersebut).
Dua deskripsi di atas kalau kita telaah sebenarnya yang menjadi titik tekan terletak pada aspek ekonomi serta aspek kepuasan. Dikatakan aspek ekonomi karena penindas menghisap harta benda tanpa memeperdulikan nasib yang ditindas. Meliputi aspek kepuasan karena selain mengejar keuntungan pribadi atau golongan, perampas mempermainkan raga mereka, dengan cara menodai perempuan. (Katanya sih gitu, bersetubuh itu nikmat hehe). Selain itu adanya kerelaan terhadap tindakan diskriminasi yang dilakukan oleh penindas. (ya pasti lah, kalau melawan namanya bukan budak). Tapi bagaimana ya redaksinya mengenai definisi perbudakan? Ah sudahlah biar pembaca saja yang mencoba menawarkan gagasan berikut teorinya.
Selain menelorkan definisi, deskripsi di atas pandangan penulis juga menjelaskan ruang lingkup dari penindasan. Perbudakan selalu ada di mana-mana baik dalam lingkup organisasi, kehidupan bermasyarakat, bahkan pertemanan. Selama akal masih berputar, penghisapan adalah keniscayaan. Nampaknya dalam hal ini meminjam istilah Thomas Hobbes, Manusia adalah srigala bagi Manusia lain memang benar-benar terjadi. Undang-undang pun akan mentah, dalam arti kata tidak akan berlaku jika kebringasan akal tidak bisa dikendalikan. Kecuali jika proses ideologisasi atau indoktrinasi berjalan mulus. Maka ideology itulah yang akan menetralisir keagresifan akal.
Kita tidak akan lupa pergerakan ala marxis yang lebih populer dengan sebutan sosialis. Propaganda utama faham ini adalah pertentangan kelas. Dalam kehidupan ada yang namanya kelas borjuis, ada pula kelas proletar. Kelas borjuis selalu menghisap kelas proletar. Propaganda tersebut menjadi langkah awal sebagai upaya penyadaran terhadap status sosial. Faham ini sempat mendapatkan tempat di hati masyarakat, terbukti dengan kemenangan melawan kaum kapitalis pada waktu itu. (tapi kapan ya? Saya lupa je hehe).
Hanya saja penulis tidak yakin kalau aliran ini konsisten mendeklarasikan anti perbudakan. Setiap indifidu dari mereka pasti menginginkannya. Fakta membuktikan ketika Stalin sudah di atas kertas memenangi perpolitikan, dia menindas anggotanya demi kepentingan pribadi. (kata teman-teman sih gitu hehe). Semua barang yang dimiliki oleh Rakyat telah disita oleh Negara, tapi kesejahteraan pun tidak kunjung datang.
Islam pun pandangan penulis sepakat dengan adanya pertentangan kelas. Hadist yang bersinggungan dengan etos kerja “… tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” dan dihubungkan dengan sabda Tuhan persolana zakat, secara tersirat memunculkan pemahaman si kaya dan si miskin. Namun aspek intimidasi (si kaya menindas si miskin atau sebaliknya) secara tegas Islam melarang.
Pembahasan ini semakin menarik jika kita menggunakan pendekatan watak orang jawa. Perbudakan seakan-akan tidak ada, karena aspek etika lebih menguasai jiwa Manusia Jawa. Secara eksplisit interaksi social terjadi diskriminasi tapi dengan santai orang jawa bilang “yang namanya belajar ya seperti ini, suatu saat saya pasti mendapat buahnya”. Aspek etika inilah yang lebih ditekan kan dalam kehidupan social. hal inilah yang kemudian memunculkan kesimpulan perbudakan dalam kontek Manusia Jawa sebenarnya tidak ada.
beberapa hari yang lalu saya sempat berbicara empat mata dengan seseorang mengenai organisasi. Dengan lantang dia berkata kita berorganisasi pada dasarnya sebagai bekal ketika kita sudah berada di tempat masing-masing. Ketika kita diperintah untuk melakukan sesuatu kita ambil hikmahnya saja lah. Perkataan semacam ini hemat penulis adalah berlandaskan pada etika ketika berorganisasi. Lagi-lagi yang ada dibenak penulis enek opo ora sih perbudakan iku?.

1 komentar :

  1. Coba kita refleksikan sebentar, banyak benda mengagumkan di dunia ini: Borobudur, Prambanan, Tembok Besar Cina, dsb.
    apakah itu hasil Peradaban? Ataukah hasil Perbudakan?
    Pikirkan dan tuliskan kembali di blogmu. ditunggu tulisanya selanjutnya...

    BalasHapus

Baca,Pelajari, Lawan