Rasa keinginan untuk berkarya lewat tulisan membuatku terus berpacu, mencoba dan mengembangkan tulisan agar kapasitasnya bisa dinilai. Kerja keras seakan-akan sudah menjadi harga mati buatku dan tidak bisa ditawar lagi. Bayangkan, sudah jam 01.06 WIB aku belum bisa tidur. Imajinasiku melayang sampai ke ubun-ubun, menelusuri dan mencari suatu hal yang bisa aku goreskan di secarik kertas, angan-anganku tidak mau ketinggalan, dia terus mencari hal-hal yang bisa aku lukis melalui tinta emas yang aku pegang. Rasa penasaran membuatku terus mencoba dan bersemangat untuk terus belajar memperbaikinya, rasa capek hilang tidak berbekas ditelan rasa kemauan yang begitu mendalam, bagaikan gelombang ombak menghantam kerikil-kerikil kecil yang ada di oase, bagaikan tegangan listrik menyengat tubuhku. Aneh memang, tidak biasanya semangat 45 yang muncul dalam diriku keluar, bak hewan buas yang keluar dari sarangnya, bak orator sedang orasi di istana negara, bak seseorang yang di daulat menjadi raja, bak sang surya menyinari sang bulan. Kekuatan yang selama ini aku cari-cari akhirnya muncul juga, seandainya aku bisa konsisten seperti ini, seandainya rasa semangat selalu hinggap di hatiku, seandainya..seandainya..seandainya.. Ah..sudah lah persetan dengan semuanya.
Hanya itu saja? Tidak, ternyata yang membuatku tidak bisa tidur adalah cerita teman tentang kehidupannya. Ucapannya masih terngiang-ngiang di telingaku, semakin aku mencoba untuk melupakan semakin keraslah suara itu, bermula dari keinginanku menghidupkan kembali buletin himabu, akhirnya aku mengajaknya ke warung kopi (blandongan), langsung saja aku mintai pendapat dan arahan-arahan tentang ke-buletin-an. Tidak aku sangka, ternyata responnya sangat bagus, masukan-masukannya begitu mengena, aku catat hal-hal yang signifikan khawatir ada hal-hal yang terlupakan, setelah itu lantas ia bercerita retorika kehidupannya yang penuh perjuangan, bayangkan dia sudah tidak di biayai orang tuanya, untuk makan keseharian dia berjualan koran di jalan malioboro setiap hari sabtu dan ahad, dia hanya mengandalkan karya tulis kemudian dia kirim ke media masa dan mengharap tulisannya dimuat dalam rubrik koran, sontak hatiku seolah-olah terkena pukulan benda tajam, semakin aku tahan semakin sakit rasanya, lemparan benda tersebut tepat mengenai titik rawan. Sedih, salut, haru campur jadi satu dalam hatiku, luapan emosi seketika muncul tanpa bisa aku kendalikan. Aku berkata pada diriku sendiri “alif bisa meringankan beban orang tua, kenapa kamu tidak bisa? Alif bisa mencari uang sendiri dengan kerja kerasnya, kenapa kamu tidak bisa? Alif kuat menahan rasa lapar, haus, kenapa kamu tidak bisa? Alif selalu bersabar, ikhlas menghadapi semua ini, kenapa kamu tidak bisa? Malu rasanya melihat diriku sendiri, umur mulai menggrogoti tubuhku tetapi kualitas tidak punya sama sekali.
Alif?ya..alif, dialah teman yang membuatku semangat menulis, rasa bosanku hilang begitu saja berkat support darinya, rasa pesimisku sedikit demi sedikit terobati dan akhirnya hilang tidak berbekas berkat dorongannya. Kemampuannya tidak boleh diragukan lagi. Pengalaman, keuletan dalam menghadapi kerasnya dunia patut di acungi jempol, permasalahannya sekarang, bisakah aku menirunya? mengambil suri tauladan darinya? Aku hanya bisa tersenyum dengan hati menangis melihat fakta yang terjadi pada diriku. Sulit rasanya bisa seperti dia karena karakterku dengan dia berbeda, terus terang untuk saat ini aku belum bisa sperti kehidupannya, aku belum siap untuk mernyainginya, aku belum sanggup mengadopsi sisi positifnya, tetapi suatu saat aku pasti bisa seperti dia bahkan lebih baik darinya. Lambat laun semoga itu bisa terjadi sehingga aku bisa meringankan beban orang tua dan sebagai bentuk latihan dalam mengarungi hidup baru.
Tinta Emas
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Baca,Pelajari, Lawan