Bingung dengan ketidak jelasan, hati kecilku meronta-ronta, denyut jantungku bergemuruh, ambisi untuk berkarya lewat tulisan membuatku terpana dengan konsep yang ada di benak pikiran, kontemplasiku melayang kemana-mana. Laksana percikan air yang berjatuhan tidak tentu arah, laksana pengembara sedang mencari hakekat kehidupan, laksana taburan bunga membumbung tinggi terbawa tiupan angin, laksana cabang bayi kehilangan induknya. Rencana untuk mengukir hal-hal yang aku alami hancur berantakan akibat kecerobohanku, keteledoranku, keegoisanku. Rasa keinginan yang kuat membuatku terus berfikir bagaimana supaya bisa menjadi penulis handal, tanpa memikrkan teknis, tanpa pertimbangan terlebih dahulu, tanpa mengukur kadar kelemahanku. Kesabaran, keuletan, membiasakan, aku tinggal kan begitu saja, apalagi membaca. Inilah yang membuat waktuku terbuang sia-sia, selain itu sulit rasanya meluangkan sejenak waktu untuk menggoreskan tinta emas di secarik kertas, padahal waktu luang sangatlah banyak, kenapa membiasakan hal tersebut amat susah sekali? Aku malu dengan diriku sendiri, sedih rasanya melihat kenyataan yang menyakitkan seperti yang sedang aku alami ini. Kenapa proses menjadi lebih baik penuh dengan retorika?
Kesempatan untuk mengekspresikan karya tulisan sebenarnya terbuka lebar melalui himabu dan kelas, teman-teman kelas sangat responsif ketika aku mintai pendapat tentang pembuatan buletin kelas. Arahan-arahan, solusi-solusi untuk mensiasati jika terjadi kemacetan tidak lepas dari bentuk apresiasi mereka, akan tetapi ada satu hal yang mengganjal dalam hati kecilku ketika teman dekatku, kepercayaanku, susah senang aku lalui dengannya, teman curhatku, menginginkan aku untuk berkecimpung mengurus kembali buletin himabu yang sudah tidak berbekas lagi, sudah tidak terbit, hilang di telan desingan peluru, ibarat dedaunan saling berguguran seiring pergantian musim, ibarat ilalang terkena terik matahari dan akhirnya terbakar, ibarat sang surya kehilangan karismanya, ibarat sang raja kehilangan tahtanya. Dilematis! itulah gambaran yang ada di hatiku, antara kelas dengan himabu. Terus terang aku tidak bisa kalau mengurusi kedua-duanya secara langsung, aku bimbang, mana yang lebih aku dahulukan? inilah mungkin yang membuat bomerang bagiku, bisa-bisa kesempatan emas ini tidak bisa terealisasikan. Oh..tuhan aku butuh siraman ilham darimu sehingga aku bisa melaksanakan semua ini. Oh..tuhan aku butuh penjelasanmu untuk mensiasati semua ini. Oh..tuhan aku butuh semuanya. Seandainya aku anak pejabat, seandainya aku anak orang terhormat, seandainya aku keturunan muhammad, mungkin hidupku tidak begini.
Aku harus bangkit menghadapi semua ini, aku harus bisa mengatasi permasalahan ini, aku bukanlah anak yang baru dilahirkan, aku bukanlah sampah masyarakat, aku bukanlah lilin yang bisa menerangi gelapnya dunia sementara dirinya hancur dengan sendirinya, aku adalah manusia yang di lahirkan untuk saling berbagi, berakhlak mulia, bertindak dengan pertimbangan matang, aku adalah manusia yang dilahirkan untuk menemukan jati dirinya. Sejarah kelam merupakan suri tauladan yang berharga, pelajaran yang tidak boleh dilupakan, salah satu hal yang bisa dibuat tendensi. Sebagai manusia yang berpendidikan seharusnya aku tidak boleh terjerumus ke lembah kenistaan ke dua kalinya, permasalahanku harus bisa teratasi secepat mungkin, perubahan sebab refleksi diri, intropeksi diri harus berimbas pada sikapku, kedewasaan harus aku kedepankan. Rasa pesimisme, rendah diri harus aku imbangi dengan rasa optimisme, percaya diri, positif tingking. Semua orang jelas mengalami masalah, baik dari faktor internal maupun eksternal, baik kalangan mayoritas maupun kalangan minoritas, baik kalangan menengah ke atas maupun kalangn menengah ke bawah, itulah yang menjadikan sikap kedewasaan manusia, itulah kehidupan dunia.
Tinta Emas
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Baca,Pelajari, Lawan