31 januari 2010
Menangis melihat sikap yang tidak konsisten . . . . . .
Sedih dengan keadaan yang mati suri . . . . . .
Menyesal dengan perbuatan selama ini . . . . . .
Pembodohan . . . . . .
Kemunafikan . . . . . .
Persetan . . . . . .
Penyesalan tanpa perbuatan . . . . . .
Intropeksi tanpa implementasi . . . . . .
Sekali lagi menagis menangis dan terus menangis . . . . . .
Pedih sekali hati kecilku . . . . . .
Roda kehidupan Manusia jelas selalu berputar, tidak pandang bulu setatus atau jabatan, semua elemen Manusia akan merasakannya. Pasang surut kejayaan dan keterpurukan seolah olah sudah menjadi makanan pokok mereka, kerasnya kehidupan kalau tanpa diimbangi dengan ketabahan hati akan menjadi bomerang, tetapi permasalahannya sekarang ketika masa suram telah tiba apakah hanya menunggu waktu keberuntungan datang??atau hanya intropeksi tanpa adanya implementasi? Pertanyaan itulah yang membuat hatiku perih melihat fakta kehidupan yang aku alami. Kerja keras orang tua ternyata tidak aku imbangi dengan berlatih mandiri, bersikap lebih profesional dan dewasa malah yang terjadi adalah menyia-nyiakan waktu dan terus menunggu keberuntungan datang dengan sendirinya, aku bukanlah anak pejabat yang mayoritas masa depannya sudah bisa ditebak, aku bukanlah anak priayi yang kebanyakan masa depannya cerah, aku bukanlah anak raja yang kelak akan menggantikan ayahnya, aku hanyalah sosok manusia yang penuh dengan ketidak mampuan.
Pedih rasanya melihat semua ini bagaikan goresan pisau menyayat hatiku, sakit luar biasa yang sulit terobati, ibarat partikel-pertikel kecil yang sulit dibersihkan, rasa pesimis selalu hinggap pada diriku, mental yang sudah tertata rapi musnah seketika tak berbekas, rencana yang sudah tertata rapi hancur berantakan akibat keegoisanku sendiri, tetapi anehnya ketika kesadaran datang implementasinya nol, kemunafikan sudah melekat dalam hatiku dan sudah menyatu dengan denyut nadiku sehingga susah untuk dihilangkan, maafkan aku ayah!maafkan aku ibu! Rasa susah yang teramat ketika merawat aku mulai dari rahim sampai tumbuh dewasa berakhir sia-sia, seandainya aku bisa melihat dosa dari semua ini mungkin dosa abu lahab yang sudah ada nas tentang hukumannya kalah dengan dosaku. Pantaskah aku berada di sisi sang khaliq dengan membawa dosa-dosa yang sangat besar? Ya Allah ampunilah hambamu ini yang tidak pernah mensyukuri nikmat yang telah engkau berikan yang berupa waktu.
Aku tidak bisa menggambarkan kekecewaan yang ada di lubuk hatiku, sakit rasanya melihat semua itu. Sebagai anak yang kelak akan menggantikan ayahnya ternyata aku kotori dengan keegoisanku, padahal aku mengerti ayat al Quran yang berbunyi “inna Allah la yughoyyiru ma bi qoum khatta yughoyyira ma bi anfusihim” dan potongan ayat “wa la taqul lahuma uf” tetapi kenapa aku tidak mau mengamalkan? inikah oleh-oleh dari pesantren? hanya isak tangis yang ada di benakku, malahan akhir-akhir ini teman-teman sibuk dengan persiapan sosialisasi perguruan tinggi ke Jombang aku malah menikmati kehidupan yang tidak ada gunanya, tidak mau tahu dengan kesibukan yang diderita teman-teman padahal aku termasuk bagian dari mereka, facebook pun tidak luput dari tangan rakusku. Aneh memang rasa sosial yang ada pada diriku tidak ada sama sekali, hakekat hidup di muka bumi aku ingkari, keegoisan masih aku kedepankan, sikap kedewasaanku patut dipertanyakan padahal mereka dengan senang hati selalu membantuku ketika aku sedang membutuhkan sesuatu, bersanda gurau denganku, mensupport aku. Siksaan apa yang bisa membuatku jera? Ya Allah ampunilah hambamu ini.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Baca,Pelajari, Lawan